Skip to main content

Featured Post

Menyambangi Sejarah Linau dan Keindahannya

Festival Tabut 2026 Tradisi Muharram Di Bengkulu

Festival Tabut
Festival Tabut

Suara tabuhan dol mulai terdengar dari kejauhan. Dentumannya pelan, kemudian semakin kuat, memantul di antara keramaian Kota Bengkulu yang perlahan dipenuhi ribuan orang. Di sepanjang jalan, masyarakat berdiri berdampingan dengan wisatawan. Anak-anak duduk di bahu orang tuanya agar dapat melihat lebih jelas, sementara para fotografer telah bersiap mengabadikan momen yang hanya datang setahun sekali.

Begitulah suasana Festival Tabut Bengkulu, sebuah perayaan budaya yang bukan hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menyimpan kisah sejarah yang telah bertahan lebih dari tiga abad.

Pada tahun 2026, Festival Tabut dijadwalkan berlangsung pada 16–26 Juni di kawasan Sport Center Pantai Panjang, Kota Bengkulu. Sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, festival ini diproyeksikan kembali menjadi magnet wisata terbesar di Provinsi Bengkulu dengan menghadirkan prosesi adat, pertunjukan seni, bazar UMKM, hingga parade budaya yang mampu menarik ratusan ribu pengunjung.

Namun, di balik arak-arakan yang meriah dan tabuhan dol yang menggema, Festival Tabut menyimpan cerita panjang tentang keberanian, pengorbanan, dan perjalanan sebuah tradisi yang berhasil bertahan melintasi zaman.


Sejarah Festival Tabut Bengkulu

Tidak banyak yang mengetahui bahwa akar Festival Tabut berasal dari perjalanan panjang para perantau Muslim keturunan India yang tiba di Bengkulu pada abad ke-17. Mereka datang ketika Inggris membangun Benteng Marlborough sebagai pusat pertahanan dan perdagangan di pesisir barat Sumatra.

Di antara rombongan tersebut terdapat seorang tokoh yang dikenal sebagai Syekh Burhanuddin atau Imam Senggolo. Bersamanya ikut pula tradisi mengenang gugurnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam Pertempuran Karbala pada tahun 680 Masehi.

Tradisi itu perlahan diterima oleh masyarakat Bengkulu. Namun, alih-alih dipertahankan dalam bentuk yang sama, masyarakat setempat memberikan sentuhan budaya lokal. Musik tradisional mulai mengiringi prosesi, seni ukir Bengkulu menghiasi bangunan Tabut, dan semangat gotong royong menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap penyelenggaraan.

Berabad-abad kemudian, hasil akulturasi tersebut melahirkan sebuah tradisi yang hanya dapat ditemukan di Bengkulu. Festival Tabut kini bukan hanya menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, tetapi juga menjadi identitas budaya masyarakat Bumi Rafflesia.

Festival Tabut
Festival Tabut

Mengapa Mengunjungi Festival Budaya?

Banyak orang datang ke Festival Tabut untuk melihat arak-arakan bangunan Tabut yang megah. Ada pula yang penasaran dengan tabuhan dol yang menjadi ciri khas Bengkulu. Ada pula masyarakat yang datang sembari mencari kuliner Bengkulu yang jarang ditemukan. Namun, semakin lama mengikuti setiap prosesi, semakin terasa bahwa festival ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Setiap tahapan yang dijalankan mengandung filosofi tentang kehidupan manusia. Ada pesan mengenai keberanian mempertahankan kebenaran, pentingnya persaudaraan, hingga kesadaran bahwa kehidupan memiliki awal dan akhir.

Karena itulah masyarakat Bengkulu tidak memandang Tabut hanya sebagai agenda wisata tahunan. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus dijaga agar generasi berikutnya tetap mengenal sejarah daerahnya.

Tidak mengherankan apabila keluarga-keluarga pewaris Tabut masih memegang peranan penting dalam setiap prosesi. Mereka menjadi penjaga tradisi yang memastikan seluruh rangkaian ritual tetap berlangsung sesuai adat yang telah diwariskan turun-temurun.


Festival Tabut Panggung Budaya

Selama sebelas hari penyelenggaraan, Kota Bengkulu menghadirkan suasana yang berbeda. Jalan-jalan utama dipenuhi hiasan festival, pelaku UMKM membuka stan kuliner dan kerajinan, sementara panggung seni menampilkan berbagai pertunjukan dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu.

Bagi wisatawan, inilah waktu terbaik untuk mengenal Bengkulu dari berbagai sisi. Di satu tempat, mereka dapat menikmati musik dol yang menghentak. Di tempat lain, tari tradisional mulai dipentaskan. Aroma Pendap, makanan khas Bengkulu yang kaya rempah, tercium dari deretan bazar kuliner.

Ketika malam tiba, suasana berubah semakin meriah. Cahaya lampu menghiasi kawasan festival, ribuan orang mulai memenuhi sisi jalan, dan dentuman dol terdengar semakin keras seolah mengajak setiap orang ikut larut dalam kemeriahan.

Festival Tabut berhasil menghadirkan pengalaman yang tidak hanya dapat dilihat, tetapi juga didengar, dirasakan, bahkan diingat lama setelah perjalanan berakhir.

Jadwal Festival Tabut Bengkulu 2026

Pemerintah Provinsi Bengkulu menetapkan penyelenggaraan Festival Tabut 2026 berlangsung pada 16–26 Juni 2026. Selama sebelas hari tersebut, berbagai kegiatan budaya akan digelar secara bertahap, mulai dari pembukaan festival, pertunjukan seni, lomba musik dol, bazar UMKM, hingga prosesi adat yang menjadi inti penyelenggaraan.

Menjelang hari-hari terakhir, antusiasme masyarakat biasanya mencapai puncaknya. Ribuan pengunjung memadati kawasan festival untuk menyaksikan arak-arakan Tabut yang menjadi simbol kebesaran tradisi Bengkulu.

Karena termasuk agenda nasional dalam Karisma Event Nusantara, jadwal kegiatan dapat disesuaikan oleh panitia. Oleh sebab itu, wisatawan sebaiknya mengikuti informasi terbaru dari Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu sebelum berangkat.

Mengapa Sport Center Pantai Panjang Dipilih?

Jika sebelumnya beberapa kegiatan Festival Tabut dipusatkan di Lapangan Merdeka, kini penyelenggaraan dipindahkan ke kawasan Sport Center Pantai Panjang.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Area yang lebih luas membuat arus pengunjung menjadi lebih nyaman. Lokasinya juga berdekatan dengan Pantai Panjang sehingga wisatawan dapat menikmati dua destinasi sekaligus dalam satu perjalanan.

Sore hari menjadi waktu yang paling menyenangkan berada di kawasan ini. Setelah mengikuti berbagai acara festival, pengunjung dapat berjalan santai di tepi pantai sambil menikmati matahari terbenam yang menjadi salah satu panorama terbaik di Kota Bengkulu.

Tidak jauh dari lokasi festival juga terdapat berbagai hotel, rumah makan, pusat oleh-oleh, serta akses menuju Benteng Marlborough dan Rumah Pengasingan Bung Karno. Hal tersebut membuat wisatawan tidak perlu berpindah terlalu jauh untuk menikmati berbagai destinasi unggulan Bengkulu.

Perjalanan Menuju Festival

Bagi wisatawan dari luar daerah, perjalanan menuju Festival Tabut cukup mudah. Bandara Fatmawati Soekarno menjadi pintu masuk utama dengan penerbangan dari Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Dari bandara, perjalanan menuju kawasan Pantai Panjang hanya memerlukan waktu sekitar 20 hingga 30 menit.

Wisatawan yang datang melalui jalur darat pun akan disuguhi panorama pesisir barat Sumatra yang masih asri. Pepohonan hijau, perbukitan, dan pemandangan laut menjadi teman sepanjang perjalanan sebelum akhirnya tiba di Kota Bengkulu.

Banyak wisatawan memilih menginap di sekitar Pantai Panjang. Selain dekat dengan lokasi festival, kawasan ini juga menawarkan suasana pantai yang tenang ketika pagi maupun sore hari. Dari hotel, sebagian besar lokasi festival bahkan dapat dijangkau dengan berjalan kaki.

Jika ingin memperoleh pengalaman terbaik, datanglah menjelang sore. Selain udara yang lebih sejuk, Anda memiliki waktu untuk menikmati bazar kuliner, melihat persiapan peserta festival, sekaligus mendapatkan posisi terbaik sebelum prosesi utama dimulai.

Festival Tabut
Festival Tabut

Menyusuri 9 Ritual Sakral Festival Tabut

Festival Tabut tidak hanya tentang pawai budaya atau dentuman musik dol yang menggema di jalan-jalan Kota Bengkulu. Di balik kemeriahannya, terdapat sembilan ritual yang menjadi inti perayaan. Rangkaian prosesi ini berlangsung sejak 1 Muharram hingga 10 Muharram dan diwariskan turun-temurun oleh keluarga pewaris Tabut selama lebih dari tiga abad.

Bagi wisatawan yang datang untuk pertama kalinya, mengikuti setiap tahapan ritual terasa seperti membuka lembar demi lembar sebuah kisah. Ceritanya dimulai dengan keheningan, beranjak menuju kemeriahan, lalu ditutup dengan suasana haru yang meninggalkan kesan mendalam.

1. Mengambik Tanah

Malam pertama Muharram selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Ketika sebagian besar kota mulai beristirahat, keluarga pewaris Tabut justru memulai prosesi pertama yang dikenal sebagai Mengambik Tanah.

Mereka menuju lokasi yang dianggap sakral, seperti Pantai Nala atau Tapak Paderi. Dengan langkah tenang dan penuh penghormatan, segenggam tanah diambil sambil diiringi doa-doa yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi orang luar, prosesi ini mungkin terlihat sederhana. Namun bagi masyarakat Bengkulu, segenggam tanah tersebut menyimpan makna yang sangat dalam. Tanah menjadi pengingat bahwa manusia berasal dari bumi dan pada akhirnya akan kembali kepadanya. Dari ritual pertama inilah seluruh perjalanan Festival Tabut dimulai.

2. Duduk Penja

Beberapa hari kemudian, suasana kembali hening ketika ritual Duduk Penja dilaksanakan.

Di hadapan keluarga pewaris Tabut, sebuah benda logam berbentuk telapak tangan diletakkan dengan penuh penghormatan. Benda itu disebut Penja, salah satu simbol penting dalam tradisi Tabut.

Air limau dituangkan perlahan untuk membersihkan Penja. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada irama dol yang menggelegar. Yang terdengar hanyalah doa-doa yang mengiringi proses penyucian tersebut.

Masyarakat Bengkulu memaknai ritual ini sebagai ajakan untuk membersihkan hati sebelum melanjutkan perjalanan spiritual. Sebuah pesan sederhana yang tetap relevan hingga sekarang: sebelum memperbaiki dunia di sekitar kita, mulailah dengan memperbaiki diri sendiri.

3. Menjara

Jika sebelumnya festival dipenuhi suasana yang tenang, maka Menjara menjadi titik ketika Bengkulu mulai berubah menjadi panggung budaya.

Dari kejauhan, suara dol mulai terdengar. Tabuhan besar berpadu dengan suara tassa, menciptakan irama yang khas dan hanya dapat dijumpai di Bengkulu.

Satu per satu rombongan keluarga Tabut saling berkunjung. Mereka tidak datang untuk berlomba, melainkan untuk mempererat persaudaraan yang telah terjalin selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Wisatawan biasanya mulai memenuhi pinggir jalan pada prosesi ini. Banyak yang terpukau melihat bagaimana tabuhan dol mampu menghidupkan suasana sekaligus menyatukan masyarakat dalam satu irama yang sama.

4. Meradai

Tidak semua tradisi diwariskan melalui cerita. Di Bengkulu, tradisi juga diwariskan melalui keterlibatan anak-anak.

Pada prosesi Meradai, anak-anak membawa Tabut berukuran kecil sambil berkeliling mengumpulkan sumbangan sukarela dari masyarakat.

Suasana terasa hangat. Warga menyambut mereka dengan senyum, memberikan bantuan sesuai kemampuan masing-masing. Tidak ada kewajiban, yang ada hanyalah semangat gotong royong.

Melalui Meradai, generasi muda belajar bahwa menjaga budaya bukan hanya tugas orang tua. Mereka tumbuh bersama tradisi yang kelak akan mereka wariskan kembali kepada anak cucunya.

5. Arak Jari-Jari dan Arak Sorban

Memasuki tanggal 7 dan 8 Muharram, Festival Tabut mencapai salah satu bagian yang paling dinanti.

Jalan-jalan mulai dipenuhi masyarakat. Anak-anak duduk di atas bahu orang tuanya, sementara wisatawan sibuk mencari posisi terbaik untuk mengambil gambar.

Prosesi Arak Jari-Jari dan Arak Sorban pun dimulai.

Rombongan keluarga Tabut berjalan perlahan membawa simbol-simbol yang berkaitan dengan kisah Imam Husein. Di belakangnya, musik dol terus mengiringi langkah peserta.

Warna-warni hiasan tradisional berpadu dengan pakaian adat menciptakan pemandangan yang begitu hidup. Tidak mengherankan jika prosesi ini menjadi salah satu momen yang paling sering menghiasi foto-foto Festival Tabut.

Namun di balik kemeriahannya, masyarakat Bengkulu tidak pernah melupakan makna yang dibawa prosesi tersebut, yaitu penghormatan terhadap keberanian dan pengorbanan.

6. Gam

Setelah beberapa hari dipenuhi tabuhan dol, Bengkulu tiba-tiba berubah. Gam, ketika seluruh kota memilih diam. 

Tidak ada suara musik.

Tidak ada irama perkusi.

Suasana menjadi sunyi.

Inilah Gam, sebuah ritual yang berarti diam atau tenang.

Keheningan tersebut bukan karena festival telah usai. Justru sebaliknya, inilah salah satu momen yang paling bermakna dalam seluruh rangkaian Tabut.

Masyarakat berhenti sejenak untuk mengenang gugurnya Imam Husein. Kesunyian menjadi bentuk penghormatan yang tidak membutuhkan kata-kata.

Bagi wisatawan, perubahan suasana ini sering menghadirkan pengalaman yang tidak terlupakan. Setelah beberapa hari menikmati kemeriahan festival, mereka diajak memahami bahwa setiap kegembiraan selalu memiliki ruang untuk refleksi.

7. Tabut Naik Pangkek

Usai Gam berakhir, suasana kembali bergerak.

Bagian demi bagian bangunan Tabut mulai disusun dalam prosesi Tabut Naik Pangkek.

Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian tinggi. Setiap ornamen dipasang pada tempatnya hingga membentuk bangunan menjulang yang menjadi ikon Festival Tabut.

Wisatawan biasanya menghabiskan waktu cukup lama mengamati proses ini. Mereka menyaksikan bagaimana keterampilan tangan para pewaris tradisi mampu melahirkan karya budaya yang megah tanpa bantuan teknologi modern.

Bangunan yang telah selesai dirakit menjadi pusat perhatian menjelang malam puncak festival.

8. Arak Gedang

Ketika malam 10 Muharram tiba, Bengkulu benar-benar berubah.

Ribuan orang memenuhi sepanjang jalan.

Lampu-lampu menghiasi bangunan Tabut.

Suara dol menggema tanpa henti.

Inilah Arak Gedang, prosesi yang menjadi puncak seluruh rangkaian Festival Tabut.

Bangunan-bangunan Tabut bergerak perlahan menuju pusat festival. Di kanan dan kiri jalan, masyarakat memberikan ruang bagi rombongan yang lewat. Banyak wisatawan mengangkat kamera, tetapi tak sedikit pula yang memilih menyimpan ponsel dan menikmati suasana secara langsung.

Sulit menggambarkan kemegahan Arak Gedang hanya melalui foto. Perpaduan cahaya malam, irama dol, dan semangat masyarakat menciptakan pengalaman yang harus dirasakan sendiri.

Prosesi Tabut Tebuang
Prosesi Tabut Tebuang

9. Tabut Tebuang

Pagi berikutnya, suasana kembali berubah.

Bangunan Tabut yang semalam menjadi pusat perhatian kini diarak menuju Karabela.

Di sanalah prosesi Tabut Tebuang dilaksanakan.

Satu per satu bagian bangunan dilepaskan sebagai simbol berakhirnya seluruh rangkaian peringatan Muharram.

Bagi masyarakat Bengkulu, ritual ini mengajarkan bahwa setiap perjalanan memiliki akhirnya. Namun berakhirnya sebuah prosesi bukan berarti tradisinya ikut hilang.

Justru setelah Tabut Tebuang selesai, keluarga pewaris mulai mempersiapkan diri untuk menyambut Muharram berikutnya. Tradisi terus berputar, diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Tabut Tebuang
Tabut Tebuang

Musik Dol, Irama yang Menjadi Napas Festival Tabut

Sulit membayangkan Festival Tabut tanpa suara dol. Dentuman alat musik perkusi khas Bengkulu ini bukan hanya menjadi pengiring prosesi, melainkan penanda emosi dalam setiap tahapan ritual.

Saat Menjara dan Arak Gedang berlangsung, tabuhan dol membangkitkan semangat seluruh peserta dan penonton. Sebaliknya, ketika Gam tiba, seluruh tabuhan dihentikan. Perubahan itu membuat siapa pun yang menyaksikannya memahami bahwa musik dol bukan hanya hiburan semata, melainkan bahasa budaya yang mampu menyampaikan kegembiraan, penghormatan, hingga duka tanpa perlu diucapkan melalui kata-kata.

Hingga kini, musik dol tetap menjadi identitas Bengkulu. Setiap Festival Tabut digelar, dentuman dol selalu menjadi suara pertama yang dicari wisatawan dan menjadi kenangan terakhir yang mereka bawa pulang dari Bumi Rafflesia. Kalian juga dapat mengunjungi tempat wisata di Bengkulu lainnya.

Comments

Popular posts from this blog

Jadwal dan Tarif Bus Arimbi Rute Bandung - Merak

Bus Arimbi adalah pilihan transportasi yang nyaman dan terpercaya bagi para penumpang yang ingin melakukan perjalanan dari Bandung ke Merak, atau sebaliknya. Dengan fasilitas lengkap dan pelayanan yang memadai, Bus Arimbi menjadikan perjalanan Anda lebih mudah dan menyenangkan. Artikel ini akan membahas tentang rute, tarif, fasilitas, serta cara pembelian tiket Arimbi untuk perjalanan yang lancar. Rute Perjalanan Bus Arimbi Bus Arimbi melayani rute perjalanan dari Bandung menuju Merak dan sebaliknya. Perjalanan dimulai dari Terminal Leuwipanjang Bandung , yang merupakan titik keberangkatan utama. Dari sini, bus akan melewati beberapa daerah dan jalur utama seperti Tol Pasir Koja, Slipi, Kebun Jeruk, Serang , Cilegon , hingga akhirnya tiba di Merak . Lama perjalanan yang dibutuhkan sekitar 6 jam, tergantung kondisi lalu lintas. Rute ini melalui jalur tol utama yang cukup ramai, namun perjalanan tetap nyaman berkat fasilitas yang disediakan oleh Bus Arimbi. Fasilitas yang Menjamin Keny...

Transportasi Umum di Bandara Radin Inten II ke Kota Bandar Lampung

Bandara Radin Inten II Bandar Udara Radin Inten II (TKG) merupakan bandara utama di Provinsi Lampung yang terletak di Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Bandara ini menjadi gerbang utama bagi wisatawan dan pebisnis yang ingin mengunjungi Lampung. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui pilihan transportasi umum yang tersedia dari dan ke bandara ini. Artikel ini akan membahas berbagai opsi transportasi, tarif, dan tips perjalanan yang bisa membantu Anda dalam merencanakan perjalanan dengan nyaman. Pilihan Transportasi Umum di Bandara Radin Inten II Saat ini, terdapat beberapa moda transportasi yang dapat digunakan dari Bandara Radin Inten II ke pusat Kota Bandar Lampung maupun ke daerah lainnya. Berikut adalah beberapa opsi transportasi yang tersedia: 1. Bus Trans Lampung Bus Trans Lampung adalah salah satu pilihan transportasi umum yang nyaman dan terjangkau dari Bandara Radin Inten II. Rute: Bandara Radin Inten II - Pahoman - Graha Wangsa (pusat Kota Bandar Lampung) Tarif: Sekitar...

10 Lagu yang Cocok untuk Merayakan Bulan Oktober

Roni SPR -  Foto:  eugnal   Oktober, bulan transisi dari musim panas ke musim gugur, memancarkan pesona unik yang mempengaruhi suasana hati kita. Untuk menemani momen-momen istimewa dan refleksi diri di bulan ini, berikut adalah 10 lagu yang cocok untuk mengisi hari-hari Oktober Anda. 1. "Bulan" - Helanuansa (SPR-Cover) Bagaimana jadinya jika lagu punk dicover menjadi alternatif. Sedikit terasa balad, tapi lagu ini tetap gurih untuk bulan Oktober. Helanuansa merupakan band dari Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Cek instagram  @helanuansa  . 2. "Autumn Leaves" - Ed Sheeran . Sebuah lagu lembut dengan melodi yang mendalam, "Autumn Leaves" memadukan perasaan melankolis musim gugur dengan kehangatan dan keintiman. Cocok untuk dinikmati sambil menikmati dedaunan berubah warna di pagi hari. 3. "October" - Alessia Cara Sebuah lagu yang memanggil kedamaian dan pengakuan akan keindahan bulan Oktober. Liriknya mencerminkan semangat musim gugur, menjad...