![]() |
| Borlindo Makassar Toraja |
Malam di Makassar waktu itu terasa biasa saja. Jalanan masih hidup, kendaraan berlalu-lalang, dan udara kota belum sepenuhnya dingin. Namun bagi saya, malam itu menandai awal sebuah perjalanan panjang menuju Toraja. Perjalanan darat yang selalu punya cerita sendiri, apalagi jika ditempuh pada malam hari, ketika kota perlahan ditinggalkan dan jalanan mulai lengang.
Saya tiba lebih awal di kantor Borlindo Makassar tepatnya di Jalan Jalur Lingkaran Barat. Lokasi ini merupakan kantor baru yang sebelumnya berada di ruko HCC, Jl. Perintis Kemerdekaan Blk. A No.2, Tamalanrea Indah, Kec. Tamalanrea, Kota Makassar.
Datang tidak terburu-buru justru memberi kesempatan untuk memulai perjalanan dengan lebih santai. Di sini, saya sempat mandi terlebih dahulu. Fasilitasnya cukup mengejutkan. Tersedia banyak toilet dan kamar mandi, semuanya bersih dan terawat. Untuk ukuran kantor PO bus, ini terasa sangat nyaman. Ruang tunggunya pun luas, rapi, dan membuat penumpang bisa beristirahat tanpa harus berdiri lama.
Tak jauh dari lokasi, ada minimarket. Saya menyempatkan diri keluar sebentar. Perut yang belum terisi sejak sore akhirnya meminta perhatian. Pilihan saya jatuh pada seporsi bakso. Ada satu hal kecil yang menarik perhatian: di sini, bakso disajikan dengan lontong. Bukan hal yang umum bagi saya, tapi justru itulah yang membuatnya terasa unik. Makan malam sederhana, namun cukup untuk mengisi energi sebelum perjalanan panjang.
![]() |
| Suites Class Borlindo |
Setelah semuanya siap, saya kembali ke area bus. Dari luar, armada Borlindo dengan julukan “FOMALHAUT” terlihat gagah. Body Legacy SR3 Suites Class berpadu dengan sasis Scania K410iB, memberi kesan modern sekaligus kokoh. Lampu bus menyala lembut, seolah memberi sinyal bahwa perjalanan malam ini akan berjalan tenang.
Begitu naik ke dalam bus, suasana langsung berubah. Hiruk pikuk Makassar terasa tertinggal. Di dalam, pencahayaan dibuat redup, cukup untuk melihat sekitar tanpa mengganggu mata. Bangku Suites Class tersusun rapi, dengan konfigurasi double dan single, atas dan bawah. Saya menuju bangku pilihan saya, bangku single di posisi bawah, dan langsung duduk sambil menarik napas panjang.
Bangkunya empuk, sandarannya pas di punggung. Di samping, tersedia port USB charger yang langsung saya manfaatkan. Selimut dan bantal sudah siap, tersusun rapi. Semua ini memberi kesan bahwa perjalanan panjang ini memang dipersiapkan dengan serius.
![]() |
| Kabin Single Deck Bawah Borlindo Suites Class |
Pukul sembilan malam, bus mulai bergerak meninggalkan kantor Borlindo. Namun belum terlalu jauh, bus mampir ke Terminal Daya Makassar. Kami semua turun dari bus. Prosesnya tertib, tanpa terburu-buru. Di terminal, setiap penumpang membayar uang peron sebesar tiga ribu rupiah. Saya sempat ke kamar mandi dan membayar dua ribu rupiah. Menariknya, semua transaksi ini disertai bukti tiket retribusi resmi.
Hal kecil seperti ini justru memberi kesan positif. Transparan, rapi, dan menurut saya pribadi, keren. Ini contoh sederhana bagaimana aktivitas transportasi bisa berkontribusi sebagai Pendapatan Asli Daerah Kota Makassar. Sambil menunggu, beberapa penumpang lain memanfaatkan waktu untuk membeli camilan dan air mineral, bekal yang memang perlu karena di dalam bus tidak disediakan snack maupun minuman.
Tidak lama, sekitar sepuluh menit saja, kami kembali naik ke dalam bus. Mesin dinyalakan, lampu kabin kembali diredupkan, dan bus benar-benar bertolak meninggalkan Makassar. Lampu-lampu kota mulai menjauh, satu per satu menghilang di balik gelap malam.
Bus sempat berhenti di beberapa titik agen perwakilan Borlindo untuk menaikkan penumpang lain. Semua penumpang yang naik sudah memesan tiket sebelumnya. Bus ini memang tidak menerima penumpang dadakan. Bagi saya, ini nilai plus. Tidak ada kekhawatiran bus kelebihan muatan, dan posisi duduk tetap sesuai yang dipesan.
Semakin jauh perjalanan, jalanan mulai berubah. Dari yang semula relatif lurus, perlahan menjadi berliku. Tanjakan dan turunan mulai terasa. Namun suasana di dalam bus tetap tenang. Mesin Scania terdengar halus, nyaris tanpa getaran yang mengganggu. Cara sopir membawa bus terasa sangat terkontrol. Tidak agresif, tidak tergesa-gesa.
Lampu kabin semakin redup. Suasana hening. Satu per satu penumpang mulai terlelap. Saya pun menarik selimut, menyandarkan kepala ke bantal. Dengan bangku single yang memberi ruang lebih luas, tidur terasa jauh lebih nyaman. Tidak perlu menyesuaikan posisi dengan orang lain, tidak khawatir tersenggol.
Pemandangan malam sebenarnya tidak banyak yang bisa dinikmati. Gelap mendominasi, hanya sesekali terlihat cahaya rumah atau kendaraan dari kejauhan melalui kaca samping. Tapi justru itu yang membuat saya lebih memilih memejamkan mata. Perjalanan panjang ini terasa lebih bersahabat ketika tubuh bisa beristirahat.
Sekitar pukul empat subuh, bus melambat dan berhenti di sebuah rumah makan. Udara dingin langsung menyapa ketika pintu terbuka. Saya turun, meregangkan badan, menuju toilet, lalu mencari cemilan kecil dan minuman hangat. Berhenti sejenak seperti ini memberi ruang bagi tubuh untuk bangun perlahan sebelum melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian, kami kembali naik. Langit mulai berubah warna. Gelap perlahan memudar, digantikan cahaya pagi. Sekitar pukul enam, bus tiba di Makale. Beberapa penumpang turun. Saya tetap duduk, menikmati pemandangan pagi Toraja yang mulai terlihat jelas.
Perjalanan berlanjut menuju Rantepao. Beberapa Tongkonan terlihat di pinggir jalan. Jalanan masih berliku, namun suasana pagi membuat semuanya terasa berbeda. Kabut tipis sesekali muncul, menambah kesan khas pegunungan. Bus melaju stabil, seolah tidak ingin merusak ketenangan pagi.
Sekitar pukul tujuh pagi, saya akhirnya tiba di Rantepao. Tubuh terasa cukup segar untuk ukuran perjalanan darat semalaman. Tidak ada rasa pegal berlebihan, tidak ada kepala pusing. Saya turun dari bus dengan perasaan puas.
Sopir dan kru Borlindo meninggalkan kesan yang baik sepanjang perjalanan. Ramah, tenang, dan komunikatif. Ketika ada penumpang yang membutuhkan berhenti ke toilet, mereka merespons dengan baik. Hal-hal kecil seperti ini sering kali menentukan bagaimana sebuah perjalanan dikenang.
Perjalanan Makassar ke Toraja memang panjang. Tidak ada toilet di dalam bus, tidak ada snack atau air mineral. Namun dengan persiapan yang tepat dan pelayanan yang baik, semua itu terasa bukan masalah besar.
Bus Borlindo, khususnya Suites Class “FOMALHAUT”, berhasil membuat perjalanan malam ini terasa nyaman dan berkesan. Bukan hanya soal sampai di tujuan, tetapi bagaimana setiap jam di jalan terasa tenang dan manusiawi.
Perjalanan malam, singgah di terminal, jalan berliku, tidur di bangku Suites Class, hingga pagi yang menyambut di Toraja. Semua itu berpadu menjadi satu cerita perjalanan yang, bagi saya, layak untuk dibagikan.



Comments
Post a Comment