![]() |
| Stasiun Yogyakarta |
Tiba di Yogyakarta dengan Kereta Malabar
Rencana Liburan yang Terus Berubah
Pagi belum lagi sempurna ketika jam 8 pagi bangunkan lelap dari tidur yang sejenak. Selama ada kawan kawan di Jogja, saya memang lebih sering menginap di kediaman mereka. Berbeda ketika teman teman sudah kembali ke kampung halamannya. Kadang saya menginap di Ndalem Diajeng Homestay.
Poltak asik
bertelepon dengan suara di ujung Makassar sana. Bagaimana kalau kita ke
Makassar? Ujarnya pelan. Kenapa tidak ke Manado sekalian saja sambutku. Datang
rupanya si kawan dari sebelah kamar sembari mengatakan, Surabaya Lombok murah
loh, sekitar 300ribuan. Aih sudah kita ke Lombok saja, Ilka segeralah pergi
cari tiket Sri Tanjung!
Semacam sulit atau
keadaan yang tak berpihak, kembalilah Sang Pencari Tiket dengan mata sayup. Tak
ada tiket katanya. Di calo pun tiada, kalau mau naik kereta Sri Tanjung gerbong
AC, harganya 150ribu. Aih jadi merinding dengarnya. Di panggilah beberapa kawan
yang berasal dari Lombok. Packing barangmu, besok kita ke Lombok telp Poltak dari
dalam kamar. Seperti mendapat panggilan jiwa, tak lama mereka berkumpul disini,
di kontrakan yang asri ini. Sembari bingung, sembari menghubungi orang tua
karena takut pulang belum sarjana, semacam goyahlah kawan kawan apakah nian
akan ke Lombok. Mereka sebelumnya sudah pernah kesana, sedang saya tak pernah.
Maklum, apalah saya ini hanya sarok sarok kwaci, bisa pesiar kalau ada rejeki.
Hari ini berlalu seperti biasa, hingga siaran sepakbola hantarkan malam menutup
mata. Pagi kembali, Ilka cs mengulangi mencari, dan seluruh tiket Sri Tanjung
tiada yang tersisa lagi. Ada baiknya kita nikmati dulu nasi telur ini, supaya
mata sedikit berani, membelalak menatap hari.
Kemasi barang kalian
sekarang, tak perlu mandi, segera cari bantuan untuk antarkan kita ke Giwangan.
Berangkatlah kami ke kontrakan Poltak. Dengan semangat 45 aih jadul ya,
semangat 2012 saja, berkumpullah kami disana. Tebar racun sana tebar racun
sini, bijaksana dan bijaksini, jadilah 9pria perjaka turut serta dalam
keberangkatan kali ini. Seperti tak disangka, tapi tak apalah. Kalau sudah niat
jangan dibiarkan mengambang, bisa terbawa mimpi nanti.
Berangkat dari Terminal Giwangan
Selepas siang merapatlah di depan terminal Giwangan, sembari masuk ke dalam ruang tunggu yang kumuh, menatap calo calo tak kunjung diam jemu. Dapatlah lintasan Jogja - Banyuwangi. Di pojok, tertutup, gelap dan baiklah sedikit pengap. Atas lobi lobi Yahudi, didapatlah tiket seharga 85ribu per orang. Bah cemana rupanya? Ini sama saja dengan harga tiket batas ambang maksimum. Tapi biarlah kami pergi untuk menikmati hari.
Perjalanan Panjang Naik Bus Mira
![]() |
| Di dalam Bus Mira |
"Semoga hujan," ujar saya bercanda, berharap jalanan menjadi lebih lengang.
Tak lama kemudian hujan benar-benar turun. Sayangnya, kemacetan tetap tidak berubah.
Perjalanan Yogyakarta menuju Solo yang biasanya relatif singkat terasa sangat panjang. Hampir empat jam kami habiskan hanya untuk mencapai wilayah tersebut.
Di sebuah terminal yang tergenang air, para pedagang makanan langsung menyerbu bus. Kami menyambut kedatangan mereka dengan antusias. Nasi telur seharga Rp5.000 menjadi penyelamat perut lapar dan pengusir kantuk.
Sebagai bus ekonomi pada masanya, Bus Mira menawarkan konfigurasi bangku 2-3 yang membuat ruang duduk terasa lebih padat dibanding bus kelas atas. Tidak ada pendingin udara, sehingga jendela yang terbuka menjadi sumber sirkulasi udara sekaligus jalan masuk debu dan asap kendaraan dari luar. Sepanjang perjalanan, suasana bus nyaris tak pernah sepi karena pengamen, penjual makanan, hingga pedagang asongan datang silih berganti setiap kali bus berhenti atau memasuki terminal. Bus ini juga melayani banyak penumpang antarkota, sehingga kerap singgah di terminal-terminal besar seperti Terminal Tirtonadi di Surakarta dan terminal di Madiun sebelum melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Sopir Bus yang Membuat Penumpang Merinding
Sang sopir, seorang pria berusia lanjut, terlihat mengendalikan kemudi dengan sangat tenang. Satu tangan bertumpu di dekat jendela, sementara tangan lainnya mengarahkan bus melintasi jalanan malam.
Jujur saja, pemandangan itu cukup membuat bulu kuduk berdiri. Yang lebih mengejutkan, tidak terlihat adanya sopir pengganti. Namun pengalaman panjang tampaknya membuat pria itu begitu percaya diri mengendalikan kendaraan.
Daripada terus memikirkan kemungkinan buruk, saya memilih kembali memejamkan mata.
Menuju Banyuwangi Melalui Jember
![]() |
| Bus Mira |
Selepas makan, perjalanan dilanjutkan. Dari kursi paling depan, saya bisa melihat bagaimana bus yang kami tumpangi dengan santai mendahului berbagai bus patas AC yang melaju ke arah Banyuwangi.
Perjalanan sempat terganggu ketika salah satu ban mengalami masalah dan harus diganti. Setelah itu, kami bahkan dipindahkan ke bus lain saat tiba di Jember.
Bagi penumpang bus ekonomi, hal seperti ini bukan sesuatu yang aneh. Ketika jumlah penumpang tidak mencukupi, perpindahan ke armada lain sering kali menjadi solusi yang biasa dilakukan operator.
Meski melelahkan, perjalanan panjang dari Yogyakarta menuju Banyuwangi ini menjadi awal dari petualangan yang tidak pernah kami rencanakan sebelumnya. Bermula dari diskusi tentang Malang, berubah ke Makassar, sempat bercanda tentang Manado, hingga akhirnya membawa kami menuju Banyuwangi sebagai gerbang menuju Lombok.
Dan petualangan sesungguhnya baru akan dimulai, semoga bisa melihat Pantai Tanjung Aan.

.png)
.png)
Comments
Post a Comment