![]() |
| Sunset Kecak Dance at Bali’s Cliffs |
Bayangkan undangan musyawarah desa sudah disebar sejak pagi. Malamnya, balai desa hanya terisi sepuluh orang: perangkat desa, beberapa pengurus, dan satu dua tokoh. Petani, ibu-ibu, dan anak muda tidak datang. Keputusan tetap diambil malam itu. Beberapa bulan kemudian, ketika desa wisata mulai berjalan, ada warga yang berkata, “Kami tidak pernah ditanya.”
Cerita ini sering terjadi, dan akibatnya bisa panjang. Desa wisata baru benar-benar hidup kalau warganya ikut terlibat. Tulisan ini membahas cara mengajak seluruh warga ikut membangun desa wisata, dari musyawarah sampai pembagian hasil.
Mengapa Warga Harus Dilibatkan?
Ada dua alasan penting. Pertama, aturannya. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menyebut pembangunan desa meliputi tiga tahap: perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Pasal 80 mewajibkan pemerintah desa menyelenggarakan musyawarah perencanaan pembangunan desa. Jadi melibatkan warga bukan hanya pilihan baik, tetapi juga bagian dari cara desa bekerja.
Kedua, hasilnya. Sebuah kajian tentang partisipasi warga menyebut bahwa masyarakat yang tidak dilibatkan sejak perencanaan cenderung kurang peduli. Sebaliknya, ketika warga dilibatkan dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pengawasan, hasil pembangunan lebih sesuai dengan kebutuhan.
Manfaat Wisata Bisa Tidak Merata
Penelitian di beberapa desa wisata memberi peringatan yang perlu didengar:
- Di Desa IV Suku Menanti, manfaat ekonomi lebih banyak dirasakan oleh warga yang terlibat langsung dalam kegiatan wisata.
- Di Desa Marinsow, pemilik homestay mendapat tambahan penghasilan, tetapi kebanyakan tetap bekerja di pekerjaan lama, dan dampak untuk warga umum belum bisa dikatakan nyata.
- Di Desa Pulisan, muncul kesenjangan antara warga yang terlibat dan yang tidak terlibat langsung dalam wisata.
- Penelitian di objek wisata Umbul Brintik menemukan manfaat berupa lapangan kerja dan pendapatan, tetapi juga dampak buruk seperti nilai budaya yang tercampur dan warga yang kurang patuh pada aturan serta menjaga lingkungan.
Pelajarannya: tanpa pengaturan, manfaat wisata mudah dinikmati segelintir orang saja. Karena itu, pelibatan warga perlu dirancang.
Empat Tahap Keterlibatan Warga
Warga bisa ikut dalam empat tahap:
- Perencanaan. Ikut menentukan apa yang akan dikerjakan, lewat musyawarah.
- Pelaksanaan. Ikut bekerja, bergotong royong, atau menyumbang tenaga dan bahan.
- Pengawasan. Ikut melihat apakah uang dan kegiatan berjalan benar.
- Menikmati hasil. Ikut mendapat manfaat dari wisata.
Sering kali desa hanya mengajak warga di tahap kedua, yaitu bekerja, tetapi tidak di tahap pertama dan ketiga. Padahal ketiganya sama penting.
Membuat Musyawarah Desa Lebih Hidup
Penelitian tentang musyawarah perencanaan di desa memberi catatan yang jujur. Di sebuah kecamatan di Agam, musrenbang desa disebut belum menjadi ajang yang bersahabat bagi warga, terutama kelompok miskin. Di Desa Warungbambu, ada penyimpangan karena masih memakai cara perencanaan dari atas ke bawah. Bagaimana agar musyawarah di desa Anda lebih hidup?
Pilih Waktu dan Tempat yang Cocok
Sesuaikan dengan jam kerja warga. Banyak petani lebih mudah hadir selepas sore atau malam hari. Pilih tempat yang mudah dicapai dan bisa menampung banyak orang. Sediakan minum dan makanan ringan sebagai tanda penghargaan.
Undang Semua Kelompok
Jangan hanya mengundang tokoh. Ajak:
- Petani dan peternak.
- Ibu-ibu, termasuk kader PKK dan posyandu.
- Pemuda dan karang taruna.
- Orang tua dan tokoh adat.
- Warga kurang mampu dan penyandang disabilitas.
- Pedagang dan pelaku usaha kecil.
Datangi langsung rumah-rumah atau kelompok, tidak hanya mengirim undangan tertulis.
Gunakan Bahasa yang Mudah
Hindari istilah rumit. Jelaskan dengan contoh sehari-hari. Kalau perlu, pakai gambar atau peta desa hasil panduan menggali potensi desa supaya warga bisa langsung melihat gambarannya.
Beri Kesempatan Semua Orang Bicara
Bagi peserta menjadi kelompok kecil. Orang yang malu bicara di depan umum sering lebih berani di kelompok kecil. Catat semua usulan dan bacakan kembali di akhir.
Contoh Susunan Acara Musyawarah
- Pembukaan oleh Kepala Desa.
- Penjelasan singkat tentang desa wisata dan peta potensi desa.
- Diskusi kelompok kecil: apa yang kita punya, apa yang kita khawatirkan.
- Setiap kelompok menyampaikan hasil.
- Kesepakatan tentang langkah pertama dan pembagian tugas.
- Penutup dan jadwal pertemuan berikutnya.
Membagi Manfaat dengan Adil
Supaya manfaat wisata tidak hanya dinikmati sebagian orang, putuskan bersama aturan pembagiannya dan tuliskan. Beberapa contoh yang bisa dipertimbangkan:
- Giliran homestay. Tamu dibagi bergantian di antara pemilik homestay. Lihat panduan homestay desa.
- Peran untuk banyak orang. Ada yang menjadi pemandu, ada yang memasak, ada yang membuat oleh-oleh, ada yang mengatur parkir. Lihat panduan oleh-oleh desa.
- Bagi hasil. Tentukan bagian untuk pelaku, kas kelompok, perawatan lingkungan, dan kas desa. Dalam aturan BUMDes, sebagian laba usaha yang dipakai menambah modal ditetapkan lewat Musyawarah Desa.
- Prioritas warga kurang mampu. Beri kesempatan lebih dulu bagi keluarga yang pendapatannya paling kecil.
Penelitian menunjukkan bahwa penyertaan modal BUMDes dari Dana Desa pun diputuskan lewat musyawarah. Jadi pembahasan pembagian hasil sebaiknya masuk dalam agenda musyawarah, tidak diputuskan sendiri oleh pengurus.
Menangani Perbedaan dan Keluhan
Perbedaan pendapat itu biasa. Beberapa cara menanganinya:
- Sediakan kotak saran atau nomor WhatsApp pengaduan.
- Adakan pertemuan rutin untuk mendengar keluhan.
- Sampaikan laporan keuangan secara terbuka di musyawarah desa.
- Tunjuk orang yang dipercaya untuk menengahi jika ada konflik.
Penelitian di Umbul Brintik mengingatkan bahwa wisata bisa menimbulkan dampak budaya dan lingkungan. Aturan bersama yang jelas, seperti jam kunjungan dan aturan berpakaian, membantu melindungi desa.
Peran Perangkat Desa dan Pokdarwis
Perangkat desa lebih baik berperan sebagai pendamping dan penghubung, bukan satu-satunya pengambil keputusan. Pokdarwis menjadi wadah warga yang ikut mengurus wisata, seperti dibahas di panduan membentuk Pokdarwis. Hasil kegiatan promosi juga bisa dibagikan kepada warga lewat Instagram desa, supaya warga merasa ikut memiliki.
Tanda-Tanda Keterlibatan Warga Berhasil
- Jumlah warga yang hadir di musyawarah bertambah.
- Usulan datang dari berbagai kelompok, bukan hanya dari pengurus.
- Banyak keluarga yang mendapat penghasilan dari wisata.
- Warga ikut menjaga kebersihan dan keramahan.
- Keluhan disampaikan terbuka dan ditanggapi.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Bagaimana kalau warga tidak mau datang rapat? Datangi rumah atau kelompok mereka. Jelaskan manfaatnya dengan bahasa sederhana, dan atur jam yang cocok.
Apakah semua warga harus menerima uang dari wisata? Tidak semua bisa menerima langsung, tetapi manfaatnya bisa dirasakan lewat kas desa, perbaikan fasilitas, atau kegiatan bersama.
Siapa yang memimpin pembagian hasil? Bahas di musyawarah desa, lalu tetapkan pengurus yang jelas, seperti Pokdarwis atau BUMDes, dengan laporan terbuka.
Desa wisata yang dimiliki bersama akan lebih kuat dan lebih lama bertahan. Gambaran langkah awalnya ada di panduan membuat desa wisata dan mengurangi kemiskinan warga.

Comments
Post a Comment