![]() |
| Rumah Pengasingan Bung Karno |
Jalan Soekarno-Hatta di Kota Bengkulu siang itu cukup ramai. Namun begitu melewati gerbang Rumah Pengasingan Bung Karno, suasananya terasa berbeda. Sebuah rumah tua berdiri di tengah halaman yang cukup luas. Dari luar memang tidak terlihat seperti bangunan yang menyimpan cerita besar. Tetapi di dalam bangunan inilah Soekarno pernah menjalani hari-harinya selama berada di Bengkulu.
Sepintas memang saya lihat ini bukan rumah biasa. Rumah ini menyimpan cerita tentang buku-buku yang dibaca Soekarno, sandiwara yang pernah digagasnya, sepeda yang digunakannya berkeliling kota, hingga pertemuannya dengan Fatmawati.
Kalau sedang berwisata sejarah di Bengkulu, tempat ini menarik untuk dikunjungi karena kita tidak hanya membaca sejarah. Kita bisa melihat ruang dan benda yang menjadi bagian dari kehidupan Soekarno pada masa itu.
Ketika Soekarno Harus Meninggalkan Ende
Samar saya dengar seorang guide menjelaskan kepada beberapa orang yang juga datang bersamaan siang itu. Tahun 1938, Soekarno kembali harus meninggalkan tempat pengasingannya. Setelah sebelumnya berada di Ende, Flores, pemerintah kolonial Belanda memindahkannya ke Bengkulu.
Di kota inilah Bung Karno kemudian tinggal selama sekitar empat tahun, hingga 1942. Rumah yang ditempatinya bukan rumah milik pemerintah. Bangunan tersebut merupakan rumah milik seorang saudagar Tionghoa bernama Tan Eng Cian yang kemudian disewa pemerintah kolonial untuk tempat tinggal Soekarno.
Terbayang memang rumah sebesar ini, di tahun itu pasti milik rumah pembesar atau rumah saudagar. Halaman yang luas lebih mirip taman. Kalau ingat di tahun 1990an saya di Pringsewu, rumah rumah dengan halaman luas biasanya milik orang berada. Kami juga biasanya bermain bola disana kalau sore menjelang.
Kembali ke bangunan ini. Kalau diperhatikan, jejak pemilik lama rumah ini masih bisa ditemukan. Lubang angin di atas jendela dan sejumlah ukiran pada pintu menjadi bagian kecil dari cerita bangunan tersebut. Betul betul rumah jaman yang masih dipelihara. Langit langit yang cukup tinggi.
Beberapa daerah yang saya kunjungi memang bercerita bahwa langit langit yang tinggi ini untuk menghindari ruangan yang gerah karena suhu udara. Langit-langit atau plafon rumah dibuat tinggi terutama untuk melancarkan sirkulasi udara panas agar rumah terasa lebih sejuk dan tidak pengap. Udara panas secara alami akan naik ke atas, menjauhi area yang Anda tempati. Ruangan jadi lebih adem.
Namun satu kecerdasan orang-orang lama adalah secara visual dan psikologis, langit-langit tinggi membuat ruangan terasa lega, bebas, dan tidak sempit.
![]() |
| Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu |
Empat Tahun Soekarno di Bengkulu
Dinding rumah pengasingan di Bengkulu boleh saja membatasi langkah Soekarno, namun jeruji kolonial tak pernah sanggup membelenggu kelihaian pikirannya. Terputus dari panggung politik terbuka di Jawa, Bung Karno justru menjadikan pengasingannya sebagai medan pengabdian baru yang menyatu erat dengan denyut nadi masyarakat lokal. Kehadirannya menjelma menjadi lentera pembaruan di tanah rantau, membuktikan bahwa seorang pejuang sejati tidak pernah kehilangan akal untuk menyalakan bara perubahan.
Di Bumi Raflesia, ruang gerak yang sempit disiasati Bung Karno melalui keterlibatan aktif di Persyarikatan Muhammadiyah. Bung Karno terjun langsung sebagai pendidik yang membuka wawasan anak-anak muda.
Saya juga mendengar bahwa Bung Karno menyumbangkan visi arsitekturalnya dalam renovasi Masjid Jamik Bengkulu yang bersejarah. Tampaknya kerja keras memang sudah menjadi kebiasaannya. Bung Karno mencurahkan ide dan pikirannya di tengah warga masyarakat Bengkulu. Menurut saya, hal ini yang melahirkan ikatan emosional mendalam, mengubah stigma tokoh buangan menjadi sosok pemimpin rakyat yang bersahaja.
Gagasan kebangsaan dan kritik sosial yang tak bisa disuarakan melalui mimbar politik kemudian dialihkannya ke atas panggung sandiwara. Melalui kelompok tonil Monte Carlo yang didirikannya, Soekarno meracik naskah drama pementasan yang sarat alegori kemerdekaan, martabat manusia, dan persatuan. Naskah-naskah drama otentik karya Bung Karno ini hingga kini tersimpan rapi sebagai koleksi berharga di Rumah Pengasingan Bung Karno Bengkulu, menjadi bukti sahih bagaimana seni pertunjukan bertransformasi menjadi senjata perlawanan bawah tanah yang ampuh.
Di balik riuhnya panggung seni dan kegiatan sosial, keheningan rumah pengasingan selalu membimbing Bung Karno kembali ke pangkuan literatur. Lemari-lemari tua di sudut ruangan menyimpan jejak ratusan buku tebal dari berbagai pemikirannya. Bahkan terdapat buku buku dengan pemikiran politik dunia, filsafat, agama, hingga sastra. Rupanya kurun waktu 1938 hingga 1942 bukanlah merupakan waktu yang singkat bagi Bung Karno. Koleksi buku sejarah inilah yang terus menyuplai energi intelektualnya, merawat api revolusi, dan mematangkan visi kemerdekaan Indonesia yang kelak Bung Karno proklamasikan ke penjuru dunia.
Rumah Tempat Soekarno Tinggal
Setelah mengetahui sedikit ceritanya, saya membayangkan bagaimana rasanya memasuki rumah ini ketika Soekarno masih tinggal di dalamnya.
Melangkah ke teras berpagar halaman lapang ini seolah memutar waktu kembali ke masa Bung Karno menetap. Bangunannya tidak besar. Rumah satu lantai dengan langit-langit tinggi ini memadukan unsur Eropa dan Tionghoa. Halamannya cukup luas dan bagian depannya memiliki teras dengan tiang-tiang putih. Pilar-pilar putih tegak menyambut, mempertegas perpaduan apik arsitektur Eropa dan sentuhan Tionghoa pada hunian bersahaja satu lantai tersebut.
Dari sini kita mulai melihat bahwa rumah tersebut memang dibangun untuk menghadapi iklim tropis. Jendelanya besar dan lubang angin terdapat di beberapa bagian bangunan. Langit-langitnya menjulang tinggi, berpadu deretan jendela lebar serta lubang angin di berbagai sudut dinding. Udara mengalir leluasa, menghadirkan kesejukan alami sekaligus suasana hening yang menemani hari-hari sang perintis kemerdekaan.
Membayangkan Hari-Hari Soekarno dari Ruang Kerjanya
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah ruang kerja.
Di ruangan ini terdapat meja tulis, foto-foto lama, serta panel informasi mengenai perjalanan Soekarno selama berada di Bengkulu.
Membayangkan seorang tokoh seperti Soekarno menjalani hari-harinya di ruangan sederhana seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda.
Di luar rumah, Bung Karno berstatus sebagai orang yang sedang menjalani pengasingan. Tetapi di dalam rumah ini, aktivitasnya tetap berjalan. Bung Karno membaca, menulis, mengajar, berkesenian, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Sejarah yang biasanya kita kenal melalui buku tiba-tiba terasa lebih dekat ketika melihat ruangan tempat semua aktivitas tersebut pernah berlangsung.
Saya jadi berpikir, sudah berapa buku yang sudah saya baca habis tahun ini?
Ranjang Besi, Lemari Kayu, dan Kehidupan yang Sederhana
Bagian kamar memberikan kesan yang berbeda.
Ruangan tersebut terlihat sederhana dengan ranjang besi, lemari kayu, dan sejumlah perabot yang tidak berlebihan.
Tidak ada kesan mewah. Justru kesederhanaan itulah yang membuat kita bisa sedikit membayangkan bagaimana kehidupan Soekarno selama tinggal di Bengkulu.
Empat tahun berada di tempat yang bukan pilihannya sendiri tentu bukan pengalaman biasa. Namun dari rumah inilah kemudian muncul banyak cerita yang tetap dikenang sampai sekarang.
![]() |
| Sepeda Ontel Bung Karno |
Dari Buku hingga Sepeda Ontel
Semakin melihat koleksi yang ada di rumah ini, cerita tentang Soekarno terasa semakin dekat.
Ada buku-buku yang pernah dibacanya. Ada foto keluarga dan dokumentasi masa pengasingan. Ada naskah serta kostum pementasan kelompok tonil Monte Carlo. Beberapa perabot lama juga masih dipertahankan.
Salah satu benda yang mudah menarik perhatian adalah sepeda ontel yang dikaitkan dengan aktivitas Soekarno selama berada di Bengkulu.
Melihat sepeda tersebut membuat kita lebih mudah membayangkan kehidupan sehari-harinya.
Soekarno bukan hanya nama yang kita temukan dalam buku sejarah. Bung Karno pernah berkeliling Bengkulu, menjalani rutinitas, membaca buku, bertemu masyarakat, dan menjalani kehidupannya di rumah yang sekarang bisa kita datangi.
Di samping rumah lama tersebut juga terdapat bangunan bernama Persada Bung Karno yang dibangun pada 2006. Bangunan ini digunakan sebagai museum, perpustakaan, ruang pertemuan, dan gedung pertunjukan.
![]() |
| Sumur Rumah Bung Karno |
Sumur di Belakang Rumah
Setelah melihat bagian dalam rumah, jangan langsung beranjak.
Di bagian belakang terdapat sebuah sumur tua.
Sumur ini memiliki cerita tersendiri di tengah masyarakat. Soekarno disebut sering menggunakan airnya untuk mandi dan mencuci muka karena airnya dingin dan bersih. Terbayang saya, Bengkulu daerah pesisir laut pasti udara sangat panas. Membasuh wajah tentunya bisa membuat adem dan membersihkan keringat di wajah.
Seiring waktu, muncul pula cerita mengenai khasiat air sumur tersebut. Ada yang mengaitkannya dengan awet muda hingga urusan jodoh.
Cerita tersebut tentu lebih tepat dipandang sebagai kepercayaan atau cerita masyarakat yang berkembang di sekitar tempat tersebut.
Percaya atau tidak, sumur tua ini tetap menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian pengunjung.
Bengkulu Kisah Cinta Soekarno
Ini kisah unik yang sempat saya dengar. Beberapa literasi yang saya baca juga menuliskan demikian. Bengkulu bukan hanya menjadi tempat Soekarno menjalani pengasingan. Kota ini juga menjadi bagian penting dari kehidupan pribadinya.
Di Bengkulu, Soekarno bertemu dengan Fatmawati.
Fatmawati merupakan putri Hassan Din, tokoh Muhammadiyah Bengkulu yang cukup dekat dengan Soekarno. Pertemuan keduanya berlangsung melalui lingkungan tersebut. Pada awalnya hubungan mereka berkaitan dengan kegiatan pendidikan, sebelum kemudian berkembang menjadi hubungan yang lebih dekat.
Fatmawati kemudian menjadi istri Soekarno dan dikenal sebagai Ibu Negara pertama Republik Indonesia.
Karena itu, ketika mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno, cerita tentang Bengkulu terasa belum lengkap tanpa mengetahui hubungan tempat ini dengan perjalanan hidup Soekarno dan Fatmawati.
Rumah keluarga Fatmawati juga masih dapat dikunjungi di Kota Bengkulu.
Rumah Pengasingan Bung Karno Sekarang
Puluhan tahun telah berlalu sejak Soekarno meninggalkan Bengkulu.
Namun rumah yang pernah ditempatinya masih berdiri dan terus dirawat sebagai bagian dari warisan sejarah.
Koleksi yang ada di dalamnya juga mendapatkan perhatian. Buku-buku lama, misalnya, membutuhkan perawatan khusus karena kondisinya semakin rapuh seiring bertambahnya usia.
Dari sisi kunjungan, rumah ini cukup nyaman untuk dijelajahi. Halamannya bersih dan ruangan di dalamnya mudah diikuti.
Kalau ingin melihat koleksi dengan lebih tenang, sisihkan waktu sekitar 45 menit sampai satu jam. Waktunya bisa lebih lama jika menggunakan jasa pemandu dan ingin mendengarkan cerita lebih banyak.
Lokasi Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu
Rumah Pengasingan Bung Karno berada di:
Jalan Soekarno-Hatta No. 8, Kelurahan Anggut Atas, Kota Bengkulu.
Lokasinya berada di kawasan perkotaan sehingga cukup mudah dijangkau.
Beberapa tempat yang bisa menjadi patokan atau sekaligus dimasukkan ke dalam perjalanan antara lain:
- Benteng Marlborough
- Simpang Lima Ratu Samban
- Masjid Jamik Bengkulu
- Pantai Panjang
Karena berada di kawasan kota, Rumah Pengasingan Bung Karno cukup mudah dimasukkan ke dalam itinerary wisata sehari di Bengkulu.
Harga Tiket Masuk dan Jam Buka
Untuk tiket masuk, informasinya dapat berubah. Tetapi pada saat saya berkunjung di penghujung tahun 2024, untuk orang dewasa dikenakan tarif Rp5.000 per orang. Tarif yang terbilang sangat murah untuk sebuah kisah sejarah.
Jam kunjungan umumnya berlangsung dari pagi hingga sore.
Sebaiknya cek kembali tarif dan jam operasional sebelum berangkat, terutama jika datang pada akhir pekan atau hari libur. Tapi menurut saya, kalaupun ada kenaikan, mungkin tidak terlalu signifikan ya.
Tips Berkunjung
Kalau ingin menikmati kunjungan dengan lebih nyaman, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan.
Datang pagi atau menjelang sore agar tidak terlalu panas ketika berada di halaman.
Jangan terburu-buru ketika masuk ke ruang koleksi. Baca panel informasi yang tersedia karena beberapa cerita penting justru terdapat di sana.
Kalau ada pemandu, tidak ada salahnya bertanya. Biasanya ada cerita-cerita kecil yang tidak semuanya tertulis pada papan informasi.
Hindari menyentuh benda koleksi, terutama buku dan kostum lama yang membutuhkan perawatan.
Dan tentu saja, jangan lupa membawa kamera. Bagian teras dan halaman rumah cukup menarik untuk diabadikan.
Akhir Kata
Ada tempat wisata yang kita datangi untuk melihat pemandangan. Ada juga tempat yang kita datangi untuk merasakan cerita.
Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu termasuk yang kedua.
Melihat meja kerja, ranjang besi, buku-buku, sepeda ontel, hingga sumur tua di belakang rumah membuat masa pengasingan terasa lebih dekat. Di tempat ini, sejarah tidak hanya berbicara tentang tahun 1938 atau 1942. Ada cerita tentang seseorang yang harus meninggalkan tempat sebelumnya, hidup jauh dari pusat pergerakan, tetapi tetap membaca, menulis, mengajar, berkesenian, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Kunjungan mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Tetapi cerita yang dibawa pulang bisa jauh lebih panjang.
Kalau suatu hari berkunjung ke Bengkulu, Rumah Pengasingan Bung Karno layak dimasukkan dalam daftar perjalanan. Apalagi jika Anda ingin mengenal Bengkulu bukan hanya dari pantainya, tetapi juga dari sejarah yang pernah berlangsung di dalam rumah tua ini.




Comments
Post a Comment