![]() |
| Galamai |
Ada alasan lain mengapa saya ingin kembali ke Kuantan Singingi selain Pacu Jalur. Bukan hanya ingin melihat perahu panjang berpacu di Sungai Kuantan atau merasakan riuhnya penonton dari tepian sungai. Saya juga rindu dengan apa yang biasanya tersaji di meja makan masyarakat Kuansing.
Oh iya, Kuansing adalah Kuantan Singingi ya teman teman. Salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Lokasinya berada di lintas tengah. Jalur ini biasanya dilintasi kendaraan dari arah Pekanbaru yang hendak menuju Dharmasraya atau Sungai Daerah.
Kabupaten Kuantan Singingi, atau yang lebih akrab disebut Kuansing, memiliki kekayaan kuliner yang menarik untuk dijelajahi. Pengaruh budaya Melayu dan Minangkabau terasa dalam banyak hidangan. Bahan-bahan yang digunakan pun dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari ikan sungai, pakis, siput sawah, ketan, hingga buah-buahan lokal.
Jadi jangan heran kalau masyarakat Melayu di Kuansing ini juga sangat pandai berbahasa Minang.
Bagi saya, kuliner daerah selalu menjadi bagian penting dari perjalanan. Sudah sampai sebuah daerah, jadi sekalian saja menikmati sesuatu yang berbeda. Dari makanan kita bisa mengenal cara masyarakat mengolah hasil alam, kebiasaan makan, sampai tradisi yang masih dipertahankan.
Begitu pula di Kuansing.
Saat berkunjung ke daerah ini, ada sejumlah makanan dan minuman yang menarik untuk dicoba. Beberapa mungkin terdengar asing bagi wisatawan dari luar Riau. Justru di situlah menariknya. Maka dari itu biasanya dalam perjalanan saya akan bertanya kepada supir travel atau masyarakat yang saya jumpai. Karena tidak semua informasi mengenai kuliner dan kebiasaan masyarakat Kuansing ini dapat kita temui di internet.
Galamai Kuansing
Kalau berbicara tentang makanan khas Kuantan Singingi, nama galamai sulit untuk dilewatkan.
Sekilas, galamai mengingatkan kita pada dodol. Warnanya hitam mengilap dengan tekstur kenyal dan rasa manis yang cukup kuat. Bahan utamanya antara lain tepung ketan, gula aren dan santan.
Yang menarik bukan hanya rasanya, tetapi proses pembuatannya.
Galamai secara tradisional dibuat dalam jumlah cukup banyak. Adonannya dimasak menggunakan kuali besar dan harus terus diaduk sampai mengental. Proses ini membutuhkan waktu dan tenaga. Karena itulah pembuatannya sering dilakukan secara bersama-sama.
Di sinilah saya melihat hubungan antara makanan dan kehidupan sosial masyarakat Kuansing. Membuat galamai bukan hanya pekerjaan dapur. Dalam pembuatannya, kita bisa melihat masyarakat lokal bergotong royong.
Dalam konteks adat, galamai juga memiliki tempat tersendiri dalam berbagai kegiatan masyarakat. Biasanya galamai selalu disajikan dalam pesta perkawinan atau jadi kudapan di pesta tradisional lainnya.
Kalau kalian berkunjung ke Kuansing, galamai bisa menjadi salah satu oleh-oleh yang menarik dibawa pulang.
Konji Barayak dan Tradisi Mangonji
Nama Konji Barayak mungkin masih terdengar asing bagi wisatawan dari luar Riau. Saya malah berpikir bahwa mangonji ini berasal dari bahasa Minangkabau.
Makanan ini berupa bubur berbahan tepung beras yang memiliki tekstur kenyal. Biasanya disajikan dengan kuah santan yang memberikan perpaduan rasa manis dan gurih.
Konji Barayak tidak dapat dipisahkan dari tradisi mangonji atau bakonji. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana aktivitas memasak dapat menjadi ruang untuk berkumpul dan mempererat hubungan antarwarga.
Para ibu berkumpul untuk menyiapkan makanan. Suasananya bukan seperti memasak untuk keperluan restoran. Ada percakapan, canda dan pekerjaan yang dikerjakan bersama. Bahkan kalau kalian berada disana, biasanya lelucon daerah kerap muncul dari candaan Ibu Ibu. Tentunya dengan bahasa lokal yang khas.
Bagi wisatawan, pengalaman seperti ini justru menjadi bagian menarik dari perjalanan. Kita tidak hanya mencicipi makanan, tetapi juga bisa melihat bagaimana makanan tersebut hadir dalam kehidupan masyarakat.
Barangkali nanti kedepannya, Disbudpar Kuansing bisa bikin Festival Mangonji antar desa. Pasti seru!
Konji Anak Loba
Selain galamai dan konji barayak, Kuansing juga memiliki beragam jajanan tradisional.
Ada Konji Anak Loba, bubur berbahan tepung beras yang disajikan dengan santan. Konji Anak Loba merupakan salah satu kuliner tradisional yang dikenal dalam khazanah makanan masyarakat Kuantan Singingi. Hidangan ini termasuk olahan berbentuk bubur dan menjadi bagian dari ragam kuliner tradisional yang masih dikenal di tengah masyarakat setempat.
![]() |
| Wajik Takiak |
Wajik Takiak
Wajik Takiak olahan beras ketan dan gula merah yang biasa hadir dalam berbagai acara. Mungkin kalau masyarakat Jawa sudah familiar dengan wajik. Biasanya juga dibungkus dengan kertas berwarna warni. Tapi di Kuansing tidak dibungkus kertas. Dipotong kotak kotak kemudian disajikan dalam piring. Rasanya manis dan sedikit lengket di tangan.
Pulut Kucuang
Selain galamai dan berbagai jenis konji, Kuantan Singingi juga memiliki olahan ketan yang dikenal dengan nama Pulut Kucuang. Pulut Kucuang adalah ketan yang dibungkus menggunakan daun pisang dan dikukus hingga matang. Makanan ini dapat dinikmati dengan berbagai pendamping, termasuk cendol atau saus srikaya.
Pulut Kucuang menarik untuk dicoba ketika berkunjung ke Kuansing, terutama bagi wisatawan yang ingin mengenal makanan tradisional yang tidak banyak ditemukan di luar daerah asalnya.
Kue Buah Inai
Buah Inai merupakan salah satu kudapan tradisional yang dikenal dalam masyarakat Kuantan. Namanya muncul dalam berbagai catatan mengenai hidangan yang menyertai tradisi Pacu Jalur.
Dalam tradisi barobuik jambar, buah inai disajikan bersama sejumlah makanan tradisional lainnya, seperti godok, paniaram dan buah golek. Salah satu sumber penelitian mengenai tradisi Pacu Jalur menyebut buah inai sebagai olahan beras dan gula yang dibentuk kecil-kecil menyerupai batu.
Keberadaan buah inai menarik karena makanan ini tidak berdiri sendiri sebagai jajanan. Buah Inai menjadi bagian dari sajian yang dibawa dalam jambar, sehingga keberadaannya berkaitan dengan tradisi berkumpul dan perayaan masyarakat Kuantan.
Jajanan tradisional seperti ini biasanya lebih mudah ditemukan ketika ada kegiatan masyarakat, acara adat atau perayaan tertentu. Saat itulah makanan tradisional tidak hanya menjadi hidangan, tetapi juga bagian dari suasana acara.
Untuk wisatawan yang menyukai kuliner tradisional, jajanan seperti ini justru menarik karena tidak selalu mudah ditemukan di luar daerah asalnya.
Gulai Cipuik Pakis
Kalau ingin mencoba makanan yang benar-benar dekat dengan bahan pangan lokal Kuansing, Gulai Cipuik Pakis bisa menjadi pilihan.
Cipuik atau siput diolah menjadi gulai bersama pucuk pakis. Kuahnya menggunakan santan dan racikan bumbu yang menghasilkan cita rasa gurih dan kaya rempah. Daging siput yang berada di dalam cangkang kemudian dinikmati setelah dikeluarkan dari cangkangnya.
Bagi orang yang belum terbiasa makan siput, cara menikmatinya mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian. Namun justru pengalaman seperti ini yang membuat perjalanan kuliner di Kuantan Singingi terasa berbeda.
Gulai ini juga memperlihatkan kedekatan kuliner masyarakat Kuansing dengan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Pakis dan siput yang mudah ditemukan di kawasan tertentu diolah menjadi hidangan rumahan yang memiliki karakter rasa tersendiri.
Cipuik merupakan sebutan lokal untuk siput yang biasa ditemukan di lingkungan persawahan atau perairan tertentu. Bahan tersebut kemudian dimasak bersama pucuk pakis dan kuah santan yang kaya rempah.
Paling enak memang kalau sudah sruput mensruput. Sensasinya terasa sangat berbeda. Apalagi karena kuah yang ada dibuat dari rempah rempah Sumatera yang kaya.
Daging cipuik biasanya dikeluarkan dari cangkangnya dengan cara diisap. Bagi masyarakat setempat, cara makan seperti ini tentu bukan sesuatu yang aneh. Namun bagi wisatawan dari daerah lain, pengalaman tersebut bisa menjadi cerita tersendiri.
Rasanya gurih dengan kuah santan yang cukup kuat. Pucuk pakis memberikan tekstur yang berbeda sehingga hidangan ini tidak terasa monoton.
Kalau Anda baru pertama kali mencoba cipuik, mungkin perlu sedikit keberanian. Namun justru makanan seperti inilah yang membuat perjalanan kuliner menjadi lebih berkesan.
![]() |
| Otun Tempoyak Ayam |
Otun Tempoyak
Pencinta tempoyak sepertinya akan menemukan banyak hal menarik di Kuansing.
Salah satunya otun, olahan yang menggunakan tempoyak sebagai salah satu bahan penting. Tempoyak sendiri merupakan hasil fermentasi durian yang menghasilkan rasa asam dan aroma khas.
Di Kuansing, olahan otun dapat dipadukan dengan berbagai bahan. Ikan patin menjadi salah satu pilihan, tetapi ada pula variasi menggunakan teri, cipuik hingga ayam.
Rasanya cukup kompleks. Pedas, asam dan gurih bertemu dalam satu hidangan.
Biasanya otun juga dapat dinikmati bersama puluik otun, yaitu olahan beras ketan yang dibungkus daun pisang kemudian dikukus.
Sate Toge Basrah dan Kerupuk Sagu
Ada pula Sate Toge Basrah yang menarik dicoba ketika berada di Kuansing.
Namanya memang sate, tetapi penyajiannya memiliki karakter tersendiri. Toge segar menjadi bagian penting dari hidangan ini dan dipadukan dengan kuah yang cukup kental.
Bagi saya, kuliner seperti ini menarik karena memperlihatkan bagaimana bahan sederhana dapat diolah menjadi hidangan yang memiliki identitas lokal.
Jangan lupa mencoba kerupuk sagu sebagai pendamping. Kerupuk ini memiliki cita rasa gurih dan menjadi salah satu makanan yang cukup dikenal di kawasan Kuansing.
Lomang Tape
Kuliner tradisional lain yang menarik adalah lomang tape.
Ketan dimasak menggunakan bambu hingga matang. Cara memasak seperti ini menghasilkan aroma khas yang berbeda dibandingkan ketan yang dimasak menggunakan peralatan dapur biasa.
Lomang kemudian dapat disajikan bersama tape ketan hitam.
Makanan ini mengingatkan kita bahwa masyarakat di berbagai daerah Indonesia memiliki cara sendiri dalam mengolah bahan pangan yang tersedia di sekitarnya. Bambu yang mudah ditemukan pun dapat menjadi bagian dari proses memasak.
Minciku
Kuliner Kuansing tidak berhenti pada makanan. Ini yang saya suka dari Indonesia, ada saja minuman khas tradisionalnya. Kalau kita terbiasa dengar jahe, bandrek, lemon. Di Kuansing ada yang berbeda.
Ada pula minuman lokal yang cukup menarik, salah satunya Minciku. Minuman ini dibuat dari buah sawo yang diolah menjadi sirup.
Buah sawo memang cukup mudah ditemukan di sejumlah daerah Indonesia. Namun mengolahnya menjadi produk minuman khas daerah memberikan nilai tambah tersendiri.
Produk seperti Minciku juga menunjukkan bahwa potensi kuliner daerah tidak selalu harus berupa makanan tradisional yang sudah dikenal sejak lama. Bahan lokal dapat dikembangkan menjadi produk baru tanpa kehilangan identitas daerahnya.
![]() |
| Kopi Cerenti |
Kopi Cerenti
Bagi pencinta kopi, ada satu nama yang menarik untuk dicari, yaitu Kopi Cerenti atau yang juga dikenal sebagai Kopi Caghonti. Ternyata saya baru tahu bahwa di Cerenti ini adalah penghasil kopi juga.
Kopi ini berasal dari Kecamatan Cerenti. Kedai kopinya telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Salah satu menu yang menarik perhatian adalah kopi telur.
Kopi telur memiliki tekstur yang lebih creamy dibandingkan kopi hitam biasa. Bagi yang belum pernah mencobanya, pengalaman ini cukup menarik karena telur menjadi bagian dari racikan minuman.
Jika tidak sempat menuju Cerenti, terdapat pula kedai yang menjual kopi tersebut di kawasan Teluk Kuantan.
Bagi saya, mengunjungi kedai kopi lokal seperti ini memiliki daya tarik tersendiri. Kita bisa duduk sebentar, menikmati kopi, sambil melihat aktivitas masyarakat setempat.
Jadi sembari menikmati Pacu Jalur, tidak ada salahnya sekalian berburu kuliner lokal di Kuantan Singingi.




Comments
Post a Comment